Selasa, 17 Januari 2023

PEREKONOMIAN SULAWESI SELATAN 
DI TENGAH ANCAMAN KRISIS EKONOMI GLOBAL

 

AGUSSALIM


 

Perekonomian Sulawesi Selatan terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan kembali ke jalur pertumbuhan kuat. Sepanjang tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan terus bergerak naik dan tumbuh cukup impresif. Pada triwulan pertama 2022 ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 4,29 persen dan terus merangkak naik hingga mencapai 5,67 persen (y-on-y) pada triwulan ketiga 2022. Dengan capaian ini, dipastikan ekonomi Sulawesi Selatan tahun 2022 tumbuh lebih kuat ketimbang tahun 2021. Secara kumulatif, ekonomi Sulawesi Selatan diperkirakan tumbuh dikisaran 5,2 persen di tahun 2022, lebih tinggi dari 4,65 persen tahun sebelumnya. Meski demikian, capaian ini belum bisa menyamai kinerja ekonomi sebelum munculnya wabah Covid-19.

Penopang Pertumbuhan

Dari sisi produksi (lapangan usaha), menguatnya perekonomian Sulawesi Selatan ditopang oleh membaiknya kinerja seluruh sektor ekonomi, kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Sepanjang tahun 2022, sektor pertambangan dan penggalian masih terus mengalami kontraksi, namun dampak negatifnya terhadap pertumbuhan ekonomi relatif terbatas karena rendahnya kontribusi sektor ini terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. Besarnya kontribusi sektor ini terhadap PDRB (mencapai 23,23%) menjadikan sektor ini sangat penting dan strategis bagi perekonomian Sulawesi Selatan. Sektor ini terus tumbuh positif sepanjang tahun 2022 - meskipun lebih lambat dibandingkan tahun 2021 - akibat terjadinya peningkatan produksi beberapa komoditas, terutama Padi. Konsistensi kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan untuk terus memberi perhatian terhadap sektor pertanian, menjadikan sektor ini tetap stabil. Bagi pemerintah daerah, sektor pertanian dianggap telah terbukti tidak rentan terhadap goncangan (economic shock) dan dapat diandalkan sebagai penyanggah perekonomian daerah saat terjadi krisis ekonomi. 

Selain sektor pertanian, sektor perdagangan juga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. Sektor perdagangan yang sempat terpukul akibat pembatasan aktifitas ekonomi, mulai menggeliat kembali dan terus menunjukkan tren positif dengan mencatat pertumbuhan 6,50 persen (y-on-y) di triwulan ketiga 2022 dan secara kumulatif tumbuh 8,09 persen (c-to-c). Untuk diketahui, sektor perdagangan merupakan penyumbang terbesar kedua terhadap pembentukan PDRB Sulawesi Selatan, setelah sektor pertanian. 

Sepanjang tahun 2022, sektor industri pengolahan juga menunjukkan kinerja yang cukup impresif. Selama dua triwulan berturut-turut, sektor industri pengolahan bertumbuh dua digit, yaitu masing-masing 13,26 persen dan 10,01 persen, sehingga andilnya terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sangat signifikan. Membaiknya kinerja sektor industri pengolahan digerakkan oleh dua jenis industri yang selama ini menjadi penopang utama struktur industri Sulawesi Selatan, yaitu industri makanan dan minuman serta industri barang galian bukan logam.

Pelonggaran pembatasan sosial akibat melandainya kasus Covid-19, telah mendorong mobilitas masyarakat dan menggerakkan aktifitas ekonomi warga. Dampaknya, sektor transportasi tumbuh sebesar 37,38 persen di triwulan ketiga 2022, yang merupakan pertumbuhan sektoral tertinggi. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum ikut memperoleh multiplier effect dari situasi ini. Sektor ini bertumbuh 28,81 persen pada periode yang sama, yang merupakan pertumbuhan sektoral tertinggi kedua setelah sektor transportasi. Padahal sebelumnya, kedua sektor ini yang paling terpukul akibat hantaman Covid-19. Pencabutan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di penghujung 2022, dapat menjadi momentum bagi kedua sektor ini untuk tumbuh lebih akseleratif.

Dari sisi pengeluaran, semua komponen PDRB juga menunjukkan koreksi positif. Ekspor mencatat pertumbuhan paling mengesankan, yaitu tumbuh 32,40 persen pada triwulan ketiga 2022 (y-on-y) dan secara kumulatif tumbuh 40,59 persen (c-to-c). Hampir semua jenis komoditas ekspor utama menunjukkan peningkatan, kecuali daging dan ikan olahan serta garam, belerang, dan kapur. Nikel, sebagai komoditas ekspor penting bagi Sulawesi Selatan, secara kumulatif tumbuh sebesar 27,29 persen selama tiga triwulan awal 2022, dari USD 686,43 juta menjadi USD 873,78 juta, seiring dengan membaiknya harga Nikel di pasar internasional.

Namun sumber pertumbuhan utama tetap berasal dari konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Ini dimungkinkan karena besarnya share kedua komponen ini terhadap PDRB (masing-masing 51,20% dan 38,85%) dan juga karena bertumbuh cukup kuat (masing-masing 7,41% dan 10,76%) di triwulan ketiga 2022. Meningkatnya konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi sinyal kuat membaiknya kondisi makro ekonomi Sulawesi Selatan.

Konsumsi pemerintah layak mendapatkan catatan tersendiri. Di triwulan ketiga 2022, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 7,82 persen (y-on-y), setelah mengalami kontraksi yang cukup dalam di triwulan sebelumnya (-17,18%). Ini pertama kalinya sepanjang tahun 2022 konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan positif. Angka ini juga merupakan yang tertinggi sedikitnya dalam 12 triwulan terakhir. Membaiknya kinerja konsumsi pemerintah bukan hanya karena meningkatnya kapasitas fiskal pemerintah daerah (akibat meningkatnya transfer fiskal dari pemerintah pusat dan penerimaan pajak daerah) dan longgarnya ruang fiskal (akibat relaksasi kebijakan refocusing dan realokasi anggaran), tetapi juga terkait dengan siklus belanja pemerintah daerah yang biasanya “menumpuk” di triwulan ketiga dan keempat.

Tantangan Ke Depan

Di tahun 2023, pandemi Covid-19 bukan lagi menjadi ancaman bagi perekonomian Sulawesi Selatan. Ancaman paling serius bersumber dari terganggunya rantai pasok global (global supply chainakibat perang Rusia -Ukraina yang memicu krisis ekonomi global. Situasi ini  menyebabkan terjadinya krisis pangan dan energi secara global. Krisis ini telah memicu kenaikan harga pangan dan energi, dan tentu saja, akan berimbas terhadap perekonomian Sulawesi Selatan. Inflasi global, menurut kalkulasi International Monetery Fund (IMF), diperkirakan mencapai 8,8 persen di tahun 2022 dan 6,5 persen di tahun 2023. Di Sulawesi Selatan, tingkat inflasi telah mencapai 6,00 persen (y-on-y) pada November 2022, yang bukan hanya jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya, tetapi juga berada di atas rentang target inflasi Bank Indonesia.

Ancaman inflasi berpotensi menyebabkan situasi yang mulai membaik pasca Covid-19, kembali memburuk. Inflasi tinggi telah mendorong pengetatan kebijakan moneter (pengetatan likuiditas). Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan beberapa kali sejak Agustus 2022 untuk meredam inflasi dan menstabilkan nilai tukar Rupiah. Peningkatan suku bunga akan menekan sektor riil (terutama investasi) sehingga menghambat kemajuan pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. 

Selain itu, inflasi tinggi juga berpotensi menekan anggaran rumah tangga. Kenaikan harga barang dan jasa akan menurunkan daya beli masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga akan berkurang. Situasi ini, tentu saja, akan sangat krusial bagi perekonomian Sulawesi Selatan, mengingat konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Tantangan berikutnya datang dari pasar internasional. Ekspor Sulawesi Selatan yang tumbuh signifikan di tahun 2022, diperkirakan akan melambat di tahun 2023. Ekspor diproyeksikan akan mengalami pelemahan seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumah negara mitra dagang utama Sulawesi Selatan. Ekonomi Tiongkok, yang merupakan mitra dagang strategis Sulawesi Selatan, diperkirakan melambat ke level 4,4 persen pada tahun 2023. Demikian juga Jepang yang menjadi pasar utama komoditas Nikel, juga dipastikan ekonominya melambat ke level 2,2 persen.  Melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang Sulawesi Selatan akan menekan permintaan terhadap barang ekspor. 

Di tengah situasi ini, kebijakan fiskal menjadi penting untuk memitigasi berbagai kemungkinan buruk yang bakal timbul. Ruang fiskal pemerintah daerah yang mulai lebih longgar setelah sebelumnya mengalami refocusing dan realokasi anggaran, harus benar-benar dimanfaatkan se-efisien dan efektif mungkin. Fiskal daerah, selain difokuskan untuk mengendalikan inflasi serta dampak turunannya, juga harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas komoditas pertanian, mendorong hilirisasi komoditas unggulan, memperluas pasar ekspor, dan mendorong investasi domestik.

 

Makassar, 7 Januari 2023

0 comments:

Posting Komentar